Konfercab PMII Dalam Upaya Pembenahan Sistem Demokrasi

Konfercab PMII
Moh. Faiq Aktivis PMII Kabupaten Sumenep. (Foto: Kanal News).

KanalNews.id – Pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sumenep telah selesai digelar. Satu orang keluar sebagai pemenang dari empat orang yang dicalonkan. Lima suara didapatkan, dua calon melipat mengosongkan, satu lainnya mendapat tiga dari total keseluruhan delapan suara.

Proses demokrasi ini dapat dijadikan pembelajaran bagi setiap orang dalam berdemokrasi secara baik dan benar. Terlebih soal bahwa tak ada jabatan yang perlu diperjuangkan secara mati-matian hingga mengorbankan persahabatan. Karena perbedaan pilihan diharapkan tidak melunturkan semangat kekeluargaan dalam tubuh pergerakan. Mao Zedong pernah mengungkapkan bahwa politik adalah perang tanpa pertumpahan darah.

Bacaan Lainnya

Penulis cukup mengikuti bagaimana perjalanan demokrasi di PMII saat ini. Mulai membantu komunikasi hingga membangun konsolidasi. Terdapat beberapa hal yang didapatkan, pertama, soal komunikasi. Tentunya, hal ini bagian terpenting dalam aspek kehidupan manusia sebagai pondasi dalam membangun hubungan baik antar sesama. Pengalaman penulis, selama membangun konsolidasi tak membedakan siapa yang menjadi lawan, semuanya dikomunikasikan, yang terpenting berupaya menjaga persahabatan dan mendapat kepercayaan. Sekalipun pada kesempatan ini, calon yang diusung gagal meraih kemenangan lalu keluar sebagai orang yang ditumbangkan.

Tetapi yang menjadi catatannya dalam proses komunikasi ini, bersandar pada pernyataan Paul Kendall seorang spesialis konseling keluarga dari Amerika mengatakan bahwa komunikasi sehat yang baik tidak mungkin terjadi tanpa keterbukaan dan kejujuran. Sehingga perlu kiranya dalam proses komunikasi yang kita bangun terdapat kejujuran agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung pada konflik berkepanjangan.

Itulah mengapa, kejujuran menjadi modal utama dalam membangun komunikasi diantara kita semua. Bahkan di dalam kitab Syarah Misykatul Mashobih terdapat redaksi hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, At Tabrani, Ibnu Hibban dan Al Hakim bahwa Rasulullah bersabda: ‚ÄĚKatakanlah yang benar walaupun kebenaran itu pahit,”.

Kedua, komitmen dan keteguhan. Perlu diketahui kondisi pemilihan di PMII hampir sama dengan perjalanan demokrasi di Indonesia ini, terdapat pula barisan dan para koalisi. Mereka berkumpul, membangun kesepemahaman, dan membuat kesepakatan yang kemudian harus dipertahankan sekalipun nanti akan banyak penawaran.

Lalu kemudian, koalisi tersebut juga berupaya agar calon mereka dapat meraih kemenangan. Usaha-usaha pun dilakukan, mulai melobi koalisi lain agar berkumpul dalam satu barisan. Pada proses ini beragam hal akan ditemukan, termasuk pula lobi-lobi soal posisi jabatan. Buka tidak ada, koalisi lain meminta syarat jabatan agar bisa satu barisan lalu menang dalam sekali putaran.

Tapi menjadi pimpinan koalisi yang harus diperhatikan adalah kesepakatan-kesepakatan awal yang dulu masuk pada barisan. Tidak boleh mengingkari tetap berpegang teguh pada janji, itulah kesatria sejati. Senior PMII Komisariat Guluk-Guluk Fathor Rahman mengatakan lebih baik kalah daripada harus berkhianat pada komitmen awal, karena sejarah akan mencatat itu semua.

Hemat penulis, menjaga komitmen adalah keberanian yang tidak bisa dimiliki sembarang orang. Karena kita menyadari bahwa saat kita membuat komitmen, kita telah membangun harapan. Ketika kita menepati janji, kita telah membangun kepercayaan. Itulah mengapa pentingnya menjada komitmen awal dan tidak keluar dari kesepakatan.

Dalam al-Qur’an surat Ash-Shaff ayat 4 telah dijelaskan bahwa, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kukuh. Ayat ini mengisyaratkan kepada kita semua agar dapat menjaga persatuan yang kuat dan persatuan yang kokoh, mempunyai semangat yang tinggi, suka berjuang, dan berkorban dan tetap dalam satu barisan.

Terakhir, Konfercab ini sudah berakhir, segala bentuk dinamika yang ada cukup dijadikan pembelajaran saja. Semua jadikan keluarga sebab kita sahabat PMII selamanya. Lebih dahulu persahabatan daripada pemilihan, tetaplah rukun, dekat, dan rekat diantara sahabat. Selamat kepada calon yang telah terpilih, semoga amanah dan bertanggung jawab dan berharap kaderisasi PMII di Sumenep lebih baik lagi. Salam!

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *