JAKARTA, KanalNews.id – Oprasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Wakil Menteri (Wamen) Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer (Noel), nampaknya penuh interpretasi esoterik.
Kasus pemerasan pada pengurusan sertifikat K3 yang dilakukan Noel menjadi perhatian khusus bagi para menteri.
Kejahatan Noel seolah ada peringatan tersirat yang tak diungkap langsung ke Publik. Hal ini juga memantik persepsi yang mengundang perhatian banyak kalangan.
Direktur Vispol Indonesia, Misbahul Munir Ali, menjelaskan Presiden Prabowo membutuhkan orang-orang yang benar-benar loyal terhadapnya saja. Artinya orang nomor satu di Indonesia ini tidak menginginkan para pembantunya tidak memiliki loyalitas ganda.
“Prabowo itu butuh loyalitas tunggal dari para pembantunya. Bukan loyalitas ganda, apalagi yang terbagi antara dia dengan penguasa sebelumnya,” terang Misbahul.
Penangkapan Noel kata dia merupakan contoh nyata bahwa ada peringatan keras atas loyalitas para menteri terhadap presiden yang masih mendua.
Misbahul Munir menilai kejadian ini cukup menjadi cerminan buruknya loyalitas menteri dan tidak boleh terjadi di dalam pemerintahan baru.
“Untuk para menteri dan pejabat lain yang masih berdiri dengan dua kaki atau dua dapur, hati-hati. Bangun sudah, jangan terlelap. Ingat, ini sudah 2025, bukan 2014–2024 lagi,” tegasnya.
Ia mengingatkan kepada seluruh menteri agar tidak lagi bermain dua kaki, apa lagi mengabdi ke pada dua orang berbeda dalam satu sistem yang berkaitan dengan pemerintahan lama. Sebab, hal ini hanya akan membuat masalah besar dan merugikan rakyat.
Untuk diketahui, atas kasus pemerasan pada pengurusan sertifikat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Immanuel Ebenezer terjaring OTT oleh KPK pada Rabu, (20/8/2025).
KPK menyebut ada tindakan haram yang dilakukan Nole, yakni Pungli dari tarif resmi 275 ribu berlipat-lipat menjadi jutaan rupiah.
Atas kejadian itu, Noel di bawa ke gedung KPK bersama 10 orang lainnya dan ditetapkan tersangka. Kemudian, KPK juga menyita 15 mobil dan 7 motor terkait dengan praktek haram Noel salama ini. (*)





















