Nardi Jaya, seorang jurnasi yang selalu bergerak dibagian kemanusiaan.
NTT, KanalNews.id – Di sela deru mesin ketik dan tumpukan naskah, Nardy Jaya memilih jalan lain. Ia menutup laptopnya, memanggul bingkisan kasih, dan menyusuri jalan berdebu ke kampung-kampung di pelosok Manggarai Timur.
Sebagai jurnalis, Nardy terbiasa menulis kisah orang. Tapi sejak beberapa tahun terakhir, ia tak hanya menulis. Ia hadir, duduk, mendengar, lalu menolong.
Dari Tinta ke Tindakan: Saat Hati Jurnalis Tak Bisa Diam
Awalnya sederhana. Saat meliput, mata Nardy menangkap lebih dari sekadar data dan narasumber. Ia melihat nenek renta yang rumahnya bocor, anak disabilitas yang merangkak di lantai tanah, keluarga miskin yang suaranya tak pernah sampai ke meja pejabat.
Ada yang harus lebih dari berita,” begitu renungnya.
Dari permenungan panjang di dunia tulis-menulis, tumbuh niat tulus: membantu semampunya. Bukan menunggu kaya, bukan menunggu sempurna. Cukup dengan apa yang ada di tangan.
Sejak itu Nardy rutin blusukan. Ia bawa sembako, bingkisan kasih, bahkan kursi roda untuk penyandang disabilitas. Ia rela duduk di lantai tanah, berdebu, mendengarkan keluh kesah yang jarang ditulis di headline.
Bagi Nardy, setiap cerita pilu yang ia dengar adalah amanah. Tugasnya ganda: menuliskan suara mereka agar didengar pemangku kepentingan, dan mengulurkan tangan agar penderitaan itu sedikit terangkat.
Di Tengah Pujian, Ada Sindiran “Pencitraan”
Tentu, langkah Nardy mengundang dua kubu. Banyak yang terharu dan mendukung. “Perbuatan kasih” itu jadi inspirasi warga Manggarai Timur.
Tapi ada juga yang menyindir: “Ah, itu mah pencitraan. Pasti ada iming-imingnya.”
Nardy tersenyum mendengar itu. Baginya, pro dan kontra adalah bagian biasa dari hidup.
“Dunia memang begitu. Ada yang setuju, ada yang mencibir. Saya sudah biasa,” katanya pelan.
Sindiran justru jadi bahan bakar. Alih-alih berhenti, Nardy makin berpacu. Karena baginya, yang utama bukan penilaian manusia, tapi memuliakan martabat sesama.
“Mereka juga gambar dan citra Allah. Kalau kita diam, siapa lagi yang mau peduli?”
Bingkisan yang Dibungkus Air Mata
Orang melihat Nardy datang membawa bingkisan. Tapi tak banyak yang tahu, bingkisan itu “dibungkus” air mata. Air mata yang ikut merasakan sakitnya warga yang ia temui.
Ia tak datang sebagai dermawan besar. Ia datang sebagai saudara. Tak banyak yang ia punya, tapi ia punya waktu, telinga, dan hati untuk mendengar.
Dan setiap kali pulang, ia bawa dua hal: cerita untuk ditulis, dan janji untuk kembali.
“Teruslah Berbuat Baik”
Saat ditanya apa yang membuatnya terus melangkah di tengah kritik, Nardy hanya menjawab satu kalimat:
*“Teruslah berbuat baik sebab takarannya bukan di Bumi melainkan di surga.”*
Kalimat itu sederhana, tapi menampar. Mengingatkan kita bahwa kebaikan tak perlu validasi manusia. Cukup tulus, cukup ikhlas, sisanya biar Tuhan yang menakar.
Di Manggarai Timur, nama Nardy Jaya kini bukan hanya dikenal sebagai jurnalis. Ia dikenal sebagai jembatan: antara kaum rentan yang tak bersuara, dengan dunia luar yang perlu mendengar.
Dan mungkin, di zaman yang serba cepat menilai ini, kita butuh lebih banyak “Nardy Jaya” — orang yang berani kotor debu demi memeluk sesama.





















