Naskah Lomba Baca Puisi HUT RI Ke-80 Kecamatan Ganding untuk Tingkat SD/MI hingga SMA/MA

Lomba Baca Puisi
Ilustrasi Lomba Baca Puisi HUT Kemerdekaan RI ke-80 Kecamatan Ganding. (Foto: Kanal News)

KanalNews.id – Salam Seni, sastra dan Budaya! dalam rangka memperingati kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-80 tahun, Pemerintah Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep akan menggelar lomba baca puisi.

Kegiatan ini bukan sekadar ajang lomba. Tapi ruang pembelajaran publik dalam memaknai kemerdekaan dengan cara paling puitik dan menyentuh hati.

Dengan moto “Bismillah Melayani Ganding Bermartabat”, Kecamatan Ganding membuktikan pelayanan tak hanya administratif, tetapi juga menyentuh dimensi kultural dan ekspresi warga.

Lomba ini gratis, naskah disediakan panitia, penilaian transparan. Semua ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam memfasilitasi minat seni masyarakat.

Yang menarik, lomba bersifat terbuka. Mulai dari anak SD hingga masyarakat umum bisa tampil dan bersuara tentang negeri ini dengan lantang dan berjiwa.

Kriteria penilaian cukup ketat: penghayatan, ekspresi, intonasi, penampilan, dan kesesuaian tema. Peserta dituntut tampil dengan penuh totalitas.

Berikut Naskah Puisi untuk tingkat SD/MI hingga SMA/MA/SMK:

1. Naskah Lomba Baca Puisi untuk Tingkat SD/MI

Kemerdekaan Itu Asyik!

Karya: Ferry Arbania

Dulu, kata Bu Guru, kita dijajah.

Wah, apaan tuh? Kata ayah, itu kayak dijebak.

Kayak ikan di jaring, nggak bisa gerak!

Tapi sekarang, hore, kita sudah merdeka!

 

Bendera kita, merah dan putih,

Merah itu kayak es krim stroberi, manis!

Putih itu kayak awan di langit, bersih!

Kalau digabung, jadi keren, bikin senyum meringis!

 

Balon Merah Putih Terbang Tinggi

Karya: Ferry Arbania

Aku punya balon,

Merah dan putih warnanya, teman!

Merah kayak pipiku kalau malu,

Putih kayak gigiku habis makan es krim susu.

 

Baca Juga :  Disbudporapar Sumenep Optimis PAD Retribusi Fasilitas Olahraga Tahun Ini Capai Target

Balonku mau terbang tinggi-tinggi,

Sampai menyentuh awan yang putih bersih.

Kata Kakak, “Itu lambang merdeka!”

Balon bebas ke mana saja, tak ada yang bisa paksa.

 

Dulu, kata Kakek,

Kita nggak boleh punya balon.

Nanti diambil, nanti dimarahin.

Tapi sekarang, ayo kita tiup, yang paling kencang!

 

Es Krim Kemerdekaan

Karya: Ferry Arbania

Dulu, kata Nenek,

Mau beli es krim susah sekali.

Jalanan seram, banyak tentara.

Sekarang, tinggal lari ke warung Pak Budi!

 

Es krim kemerdekaan,

Rasanya paling enak di dunia.

Dingin-dingin manis, bikin lidah nari-nari,

Karena kita bisa makan sepuasnya, tanpa takut lagi!

 

2. Naskah Lomba Baca Puisi Untuk Tingkat SMP

Getaran Tanah Pusaka

Karya: Ferry Arbania

Di bawah langit yang dulu muram,

Kini biru membentang, cakrawala tanpa kelam.

Getaran tanah pusaka, riwayat purba berbisik,

Tentang luka yang terpatri, di setiap bilik.

 

Bukan sekadar buku usang di perpustakaan,

Ia adalah denyut nadi, dalam setiap rona harapan.

Merah darah, bukan sekadar warna di bendera,

Ia adalah keberanian, yang membakar bara.

 

Putih tulang, bukan sekadar simbol suci,

Ia adalah keteguhan, yang takkan mati.

Melintasi zaman, dari senyapnya rintihan,

Menjelma nyanyian agung, kemerdekaan.

 

Refleksi Jiwa Merdeka

Karya: Ferry Arbania

Cermin sunyi memantulkan cerita,

Wajah-wajah muda, mata penuh cita.

Adakah jejak perih masih mengukir di sana?

Atau hanya bayangan usang, dari masa yang fana?

 

Baca Juga :  Pendaftaran PPPK di Sumenep 2024 Resmi Dibuka, Ini Formasi dan Jadwal Lengkapnya!

Kemerdekaan, bukan hanya sebatas jeda,

Dari rantai yang membelenggu jiwa.

Ia adalah ruang, untuk menari mimpi,

Di atas panggung sejarah, tanpa batas tepi.

 

Dari serpihan kenangan yang tercecer,

Kita merajut benang, masa depan yang cerah.

Di setiap hembusan napas, terucap janji,

Menjaga api suci, agar tak pernah padam lagi.

 

Simfoni Kebangkitan

Karya: Ferry Arbania

Ketika fajar menyingsing, di ufuk timur,

Dentang lonceng kemerdekaan, terdengar jujur.

Bukan hanya euforia sesaat, gemuruh suka,

Tapi simfoni kebangkitan, dari tidur yang lama.

 

Setiap nada, adalah jeritan para syuhada,

Yang darahnya membasahi, tanah pertiwi.

Setiap ritme, adalah semangat yang abadi,

Membimbing langkah, menuju cita-cita hakiki.

 

Mari kita lantunkan melodi persatuan,

Di antara perbedaan, kita temukan kekuatan.

Kemerdekaan adalah melodi yang tak putus,

Dari hati ke hati, terus mengalir mulus.

 

3. Naskah Lomba Baca Puisi untuk Tingkat SMA/MA/SMK

Merah Putih

Karya: Prawiro Sudirjo

Merah darahku untukmu negeri

Etos juang kita naikkan

Raga kita kuatkan

Agar kemerdekaan tetap terjaga

Hancurkan semua hambatan dan rintangan

 

Putih tulangku untuk bangsa

Upayakan segala daya untuk merdeka

Tekad kuat selalu di dada

Indonesia Raya jadi digdaya

Harum mewangi seluruh negeri.

 

Cinta Merdeka

Karya Rita Herawati

Wanginya harum semerbak wahai pahlawan

Kisahnya indah selalu melekat di sanubariku

Sang pahlawan pembela nusa dan bangsa

Merelakan nyawa, harta, jiwa dan raga di medan laga

Rela dadanya terhembus peluru

Meskipun tergeletak di tanah penuh darah

Namun kau tetap cinta tanah air

 

Baca Juga :  Tasyakuran Rakernas 2, LBH Madani Putra Komitmen Berikan Layanan Bantuan Hukum Gratis

Bayang bayang para pahlawan bangsa

Kita nampak menembus era

Dan kau saksikan kami di alam surga sana

Kita generasi penerus perjuangan mu

Yang cinta tanah air

Akan selalu mempertahankan negeri ini

Itulah do`a dan harapan kami

Semoga tetap jaya negeriku.

 

Kemerdekaan

Karya wiji Thukul

Kemerdekaan

mengajarkan aku berbahasa

membangun kata-kata

dan mengucapkan kepentingan

 

kemerdekaan

mengajar aku menuntut

dan menulis surat selebaran

kemerdekaanlah

yang membongkar kuburan ketakutan

dan menunjukkan jalan

 

kemerdekaan

adalah gerakan

yang tak terpatahkan

kemerdekaan

selalu di garis depan.

 

Paradoks Lentera di Negeri Merdeka

Karya: Ferry Arbania

Ketika langit Indonesia

mengumandangkan kemerdekaan

Tanah air dan mata pencaharian kita

Gelombang fatihah mengalir disetiap nisan pahlawan

 

Gerobak tua pedagang kaki lima

Pejabat rendahan yang diasingkan kekuasan

Orang-orang tak berdaya yang dikucilkan

Melahirkan reformasi dengan darah dan pencitraan

 

Masihkah kemerdekaan menandai reformasi

Lulusan sarjana kesulitan lapangan kerja

Anak muda yang cerdas multi talenta

tapi koruptor menguasai negeri percikan surga

 

hari ini 

rakyat dan buruh bangkit kembali

mengibarkan merah putih keadilan

kesetaran hidup pengap dikolom jembatan

 

sudah saatnya tiang-tiang kemerdekan itu

semangat kemanusiaan ditegakkan kembali

kita tak butuh bambu runcing dan senapan lagi

tapi menyiapkan generasi penuh prestasi.