
NTT, KanalaNews.id – Ruas Jalan Provinsi Benteng Jawa Dampek, Matim, sudah lama rusak. Tapi sampai hari ini Pemkab dan Pemprov NTT belum hadir. Akhirnya warga turun tangan sendiri.
Sejak pagi puluhan warga Matim kepanasan di bawah matahari. Modal cangkul, sekop, dan gerobak. Mereka timbun lubang, ratakan jalan. Bukan karena mau pamer gotong royong. Tapi karena sudah muak. Jalan rusak bikin anak sekolah jatuh, petani gagal jual hasil kebun, ambulans bahkan takut lewat.
“Tenaga Kami Gratis, Material Mana?”
Warga bukan minta aspal mulus hari ini. Permintaan mereka sederhana: 2 ton sekam padi. Itu saja. Sekam buat campuran timbunan biar jalan tidak ambles lagi kena hujan.
“Kitong kerja keringat, tenaga gratis. Tapi kalau cuma tanah, 2 kali hujan langsung hancur. Kami capek kerja sia-sia. Pemkab, Pemprov NTT, tolong kasih 2 ton sekam padi. Masa itu saja susah?”, sentak Yohanes, warga Benteng Jawa Dampek.
Jalan ini nadi hidup. Satu-satunya akses antar kampung. Rusak = ekonomi mati. Tapi pemerintah seperti tutup mata. Dinas PUPR NTT yang punya kewenangan jalan provinsi, ke mana?
Baksos Bukan Solusi, Itu Tanda Negara Absen
Aksi warga hari ini bukan bukti “warga hebat”. Ini tamparan. Tamparan bahwa negara absen di urusan paling dasar: jalan layak.
Yohanes mewakili warga: “Kitong mulai dari kitong dulu. Tapi pemerintah jangan diam. Kalau Pemkab + Pemprov NTT tidak bantu 2 ton sekam padi sekarang, berarti nyawa warga tidak penting”.
Kerja bakti masih jalan. Tapi kesabaran warga ada batasnya. Musim hujan tinggal tunggu waktu. Kalau tidak ada sekam padi, semua kerja hari ini akan sia-sia. Dan yang rugi tetap rakyat kecil.





















