BANGKALAN, KanalNews.id – Layanan Bus Trans Bangkalan resmi berhenti beroperasi. Selain karena sepi peminat juga keterbatasan biaya operasional. Sehingga angkutan yang dikelola Dinas Perhubungan (Dishub) Bangkalan kini dikandangkan.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bangkalan Roniyun Hamid mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa memaksakan pengoperasian angkutan Bus Trans Bangkalan.
Sebab, biaya kendaraan operasional itu memang tidak dianggarkan.
Pihaknya juga mengaku bahwa layanan Trans Bangkalan masih belum maksimal dan minim penumpang.
Bahkan, banyak masyarakat yang masih belum mengetahui keberadaan bus itu karena kurangnya sosilisasi dan informasi mengenai rute dan pemanfaatannya.
“Sementara hanya melayani antar jemput mahasiswa IAI Syaikhona Muhamamad Kholil dan itu hanya ada dua bus yang digunakan,” jelasnya, Sabtu (12/7/2025).
Untuk diketahui, angkutan antar kecamatan itu juga dipinjam untuk kegiatan instansi pemerintahan dan lembaga pendidikan.
Untuk itu, lanjut Oon, dalam pemanfaatan aset itu, pihaknya tidak mematok tarif. Peminjam hanya perlu mengganti biaya bahan bakar minyak (BBM) dan perawatan.
“Cukup mengisi solar, sedangkan untuk biaya pemeliharaan hanya Rp 200 ribu. Itu pun hanya untuk masyarakat umum. Kalau untuk instansi pemerintah tidak perlu (membayar biaya perawatan),” paparnya.
Pria yang akrab dipanggil Oon itu mengaku sudah meminta kepala daerah agar menghapus aset yang tidak produktif itu. Yakni melalui skema lelang terbuka di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).
“Kami sudah menyampaikan untuk kendaraan itu dilelang dan diganti dengan bus yang lebih kecil,” katanya.
Pihaknya juga berencana mengubah rute Trans Bangkalan agar lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Yakni terintegrasi dengan Bus Trans Jatim.
Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Bangkalan Fadhur Rosi menyatakan, pengoperasian bus Trans Bangkalan selama ini dinilai tidak efektif dan kurang maksimal.
Pihaknya sepakat jika tujuh unit kendaraan itu dilelang. Sehingga, menjadi tambahan pendapatan bagi pemkab.
“Cukup sisakan satu atau dua bus saja, atau beli bus yang lebih kecil agar tetap bisa menjadi feeder Trans Jatim,” pungkasnya.
Dengan itu, penghentian layanan opersional Bus Trans Bangkalan akibat dari berbagai faktor termasuk minimnya minat masyarakat, kekurangan biaya operasional, serta layanan yang tidak efektif secara menyeluruh.





















