Lokakarya Sinergi Pentahelix: Cara Disbudporapar Sumenep Kembangkan Ekowisata Pulau Segitiga Emas

Lokakarya
Foto Bersama Disbudporapar Sumenep Bersama Akademisi Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya Pada Acara Lokakarya. (Foto: Kanal News)

SUMENEP, KanalNews.id – Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep bekerja sama dengan Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya, mengadakan Lokakarya guna mengembangkan destinasi pariwisata.

Lokakarya yang mengusung tema bertajuk “Sinergi Pentahelix dalam Pengembangan Ekowisata Pulau Segitiga Emas Sumenep” itu bertempat di Aula Kantor Bappeda Sumenep, Jumat (20/09/2024).

Acara ini dihadiri oleh Kepala Disbudporapar Sumenep Mohammad Iksan, Kabid Pariwisata Andre Dzulkarnaen, Tenaga Ahli Bidang Pariwisata Sugeng, Duta Pariwisata, Guru Besar Bidang Kebijakan Publik UHT Prof. Dr. Agus Subianto.

Hadir pula, Himpunan Ahli Pengelolaan Pesisir Indonesia (HAPI) Prof. Dr. Ninis Trisyani, Ketua Tim Peneliti Dr. M. Husni Tamrin, serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) se-Kabupaten Sumenep.

Baca Juga :  Ditandai Pelepasan Balon Udara, HIDAR Ke-56 Resmi Dibuka

Kepala Disbudporapar Sumenep, Mohammad Iksan mengatakan, konsep ekowisata dianggap sebagai metode efektif untuk memberdayakan masyarakat lokal Sumenep, melawan kemiskinan, dan mencapai pembangunan berkelanjutan.

“Pengembangan dunia pariwisata desa sangat penting dilakukan, sebagai upaya mendorong kesejahteraan masyarakat, karena keberadaan wisata itu memberi peluang terhadap pemberdayaan ekonomi,” katanya saat memberikan sambutan. Jumat (20/9/224).

Lebih lanjut, Iksan panggilan akrabnya menjelaskan, Lokakarya itu bertujuan menyelaraskan pemahaman dan visi antar akademisi, pemerintah kabupaten, pemerintah desa, dan Pokdarwis mengenai konsep ekowisata serta mengidentifikasi potensi dan tantangan ekowisata berkelanjutan di Pulau Segitiga Emas.

Diketahui, Pulau Segitiga Emas adalah julukan untuk tiga pulau, yaitu Gili Iyang, Gili Labak, dan Gili Genting, yang memiliki potensi ekowisata unik dengan kekayaan alam dan kearifan budaya.

Baca Juga :  Bupati Sumenep Ultimatum Pengusaha Rokok: Jangan Cuma Cari Untung, Harus Produksi

“Meskipun telah terlibat dalam melestarikan warisan budaya, masih terdapat tantangan dalam pemahaman konservasi lingkungan, kurangnya pengetahuan tradisional yang optimal, dan kekurangan regulasi di tingkat lokal,” ujar mantan Kadinsos P3A Sumenep itu.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, sambung Iksan, diperlukan beberapa rekomendasi kebijakan agar Pulau Segitiga Emas dapat menjadi destinasi ekowisata berkelanjutan yang memberikan manfaat ekonomi adil kepada masyarakat lokal dan tetap melestarikan keindahan alam serta budaya.

“Kesuksesan ini tidak akan pernah tercapai tanpa kolaborasi berbagai pihak, di antaranya pemerintah, masyarakat, pihak swasta, dan seluruh elemen dalam mencapai pembangunan pariwisata yang seimbang dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kebijakan Tak Menaikan PBB-P2, Kepala Bapenda Sumenep; Ini Bentuk Kepedulian Bupati Kepada Rakyat

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti menyampaikan bahwa pengembangan ekowisata di Pulau Segitiga Emas akan memberikan manfaat besar jika dioptimalkan dengan baik.

“Kolaborasi dan sinergi antara pemerintah dan stakeholder setempat sangat diperlukan guna mengembangkan wisata di Sumenep,” ujarnya.

Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis dengan konsep Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu (Integrated Coastal Zone Management) dan analisis Strength, Weakness, Opportunity, dan Threat.

“Harapannya, kolaborasi kedua metode tersebut dapat memberikan hasil yang komprehensif mengenai kekinian Pulau Segitiga Emas, utamanya untuk mendukung keberlanjutan pariwisata yang ada,” pungkasnya. (*)