Ketika Perampok Uang Negara Berpura-Pura Jadi Dermawan

Perampok uang negara
Foto ilustrasi Mafia Perampok Uang Negara yang Pura-pura Dermawan. (Foto: AI)

OPINI, KanalNewa.id – Di negeri ini, ironi sering terjadi. Perampok uang negara kadang tampil bak malaikat penolong. Mereka menebar santunan, membagi sembako, lalu dipuji sebagai dermawan.

Padahal, uang yang dibagikan itu sering berasal dari sumber yang sama, yakni kas negara atau pajak negara yang dirampok sedikit demi sedikit. Hari demi hari, bahkan mungkin setiap jam.

Praktik itu berlangsung rapi. Perampokan bisa dilakukan melalui proyek, pengadaan, mark up anggaran, manipulasi pajak hingga permainan kebijakan. Uangnya mengalir ke kantong pribadi secara sistematis.

Namun, citra tetap harus dijaga. Maka muncullah panggung kedermawanan. Santunan kepada fakir miskin digelar, bantuan sosial dibagikan, dan foto-foto disebarkan ke publik.

Bagi masyarakat awam, pemandangan itu terlihat mengharukan. Seorang pengusaha atau pejabat tampak peduli bagai tokoh paling dermawan padahal palsu. Mereka berdiri di tengah warga, menyerahkan amplop dan paket sembako.

Baca Juga :  Alfaro Remba Bikin Pengaduan ke Kapolri dan KPK, Terkait Kasus Pengadaan Alkes di RS Pratama Watunggong

Padahal kenyataannya bisa sangat berbeda. Nilai santunan itu mungkin tidak sebanding dengan uang negara yang telah dirampok selama bertahun-tahun.

Ironinya, kegiatan amal tersebut sering dilakukan hanya setahun sekali. Biasanya saat momentum keagamaan, hari besar, atau menjelang tahun politik.

Tujuannya bukan sekadar membantu masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi alat pencuci citra. Publik diarahkan melihat sisi baiknya, bukan sumber kekayaannya.

Dalam skema ini, masyarakat miskin sering dijadikan latar panggung. Mereka hadir sebagai objek yang memperindah narasi kepedulian sosial.

Sementara di balik layar, praktik korupsi tetap berjalan. Anggaran negara terus dipermainkan. Proyek diatur, komisi dibagi, dan keuntungan pribadi terus bertambah.

Baca Juga :  Dugaan Korupsi Dana Desa Rp849 Juta, Kades Sepanjang Dilaporkan ke Kejari Sumenep

Fenomena ini melahirkan paradoks moral. Seseorang bisa terlihat sangat murah hati, tetapi di saat yang sama menjadi bagian dari jaringan perampokan negara.

Lebih berbahaya lagi ketika mafia seperti ini menyamar sebagai pengusaha sukses atau pejabat terhormat. Status dan jabatan menjadi tameng yang melindungi mereka.

Mereka pandai memainkan persepsi publik. Sedikit bantuan dibesar-besarkan. Kegiatan sosial dikemas megah, lengkap dengan liputan media dan publikasi masif.

Sementara sumber kekayaan jarang dipertanyakan. Dari mana datangnya uang itu? Bagaimana proses bisnisnya? Siapa yang diuntungkan dari kebijakan yang dibuatnya?

Ketika pertanyaan-pertanyaan itu hilang, maka lahirlah normalisasi kemunafikan sosial. Perampok negara bisa tetap dihormati selama masih rajin berbagi santunan.

Baca Juga :  Skandal Cukai Meledak, KPK Mulai Bidik Pengusaha Rokok "Nakal" di Sumenep, Ini Daftarnya!

Padahal sejatinya, kedermawanan sejati tidak lahir dari uang haram. Kepedulian sosial tidak seharusnya menjadi topeng untuk menutupi kejahatan ekonomi.

Masyarakat perlu lebih kritis melihat fenomena ini. Dermawan sejati bukan yang paling sering memberi di depan kamera.

Dermawan sejati adalah mereka yang memperoleh harta secara bersih, membayar pajak dengan jujur, serta tidak merampok hak publik.

Sebab pada akhirnya, uang negara adalah milik rakyat. Merampoknya lalu mengembalikan sedikit kepada rakyat bukanlah kebaikan.

Itu hanyalah sandiwara moral yang dibungkus santunan. Sebuah pertunjukan yang membuat perampok tampak seperti pahlawan.

Penulis: Helman JR

Ketua IKAPMII Ganding