Gandeng DPMD Sumenep, BPRS Bhakti Sumekar Berikan Akses Dana Khusus BUMDes

BPRS
Kolase Foto Dirut BPRS Bhakti Sumekar Hairil Fajar (Kanan) dan Kepala DPMD Sumenep Moh Anwar Syahroni Yusuf. (Foto: Kanal News)

SUMENEP, KanalNews.id – Bank BPRS Bhakti Sumekar bangun Memorandum of Understanding (MoU) atau kerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sumenep untuk memperkuat peran BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih.

Kolaborasi ini bertujuan mendukung kemandirian ekonomi desa serta mempercepat ketahanan pangan berbasis potensi lokal di wilayah Kabupaten Sumenep.

Direktur Utama Bank BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar menyatakan, ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari desa.

Baca Juga :  5 Kadernya Resmi Dilantik Jadi Anggota DPRD, Ini Harapan Ketua DPD NasDem Sumenep

“Bank BPRS siap menjadi mitra aktif dalam membangun ekosistem pangan yang berkelanjutan sesuai potensi tiap desa,” katanya pada median ini. Kamis (12/6/2025).

Bank BPRS membuka rekening khusus bagi BUMDes yang bergerak di sektor pangan untuk mempermudah akses pendanaan dan penguatan kelembagaan.

“Rekening ini kami siapkan agar BUMDes bisa lebih profesional dalam mengelola keuangan dan program-program ketahanan pangan,” jelas Fajar panggilan akrabnya.

Baca Juga :  Wabup Sumenep Dorong GP Ansor Jadi Motor Penggerak Masa Depan Bangsa

Sementara itu, Kepala DPMD Sumenep, Moh. Anwar Syahroni Yusuf menyampaikan, program itu menyasar semua desa baik daratan maupun kepulauan seperti Sapeken, Arjasa, dan Kangayan yang memiliki potensi besar di sektor pangan.

“Kami ingin desa-desa di kepulauan memiliki akses yang sama terhadap layanan keuangan inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Anwar panggilan akrabnya menjelaskan, penguatan BUMDes sebagai pelaku ekonomi lokal dapat mempercepat terwujudnya kedaulatan pangan di pedesaan.

Baca Juga :  BRIDA Sumenep Sosialisasikan Format Proposal Riset Baru Pada LPPM Perguruan Tinggi

Oleh karenanya, Anwar berharap BUMDes mampu mengelola lahan produktif, memanfaatkan hasil tani lokal, dan memperkuat distribusi pangan hingga pelosok.

“Ketahanan pangan paling efektif dibangun dari desa. Kuncinya ada pada kolaborasi, kepercayaan, dan pemberdayaan ekonomi lokal,” pungkasnya. (*)