KanalNews.id – Kehilangan figur seorang bapak, ternyata semangat seorang anak tetap tak luntur, hal ini terjadi pada Nadya Setiawati seorang mahasiswi S2 yang saat ini menempuh pendidikan beasiswanya di Autralia.
Berikut petikan wawancara awak media Kanalnews.id dengan figur peneliti dari Kelapa kampit, Belitung Timur.
Nadya Setiawati merupakan perempuan kelahiran Selinsing yang saat ini menempuh pendidikan magister pada program Master of Environmental and Resource Economics di Australian National University (ANU), Canberra, Australia.
Ia merupakan penerima beasiswa penuh dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang Ilmu Ekonomi dari Universitas Padjadjaran dengan dukungan beasiswa Bidikmisi, yang kini dikenal sebagai beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Nadya dibesarkan oleh ibunya, Eva, yang menjadi orang tua tunggal sejak kepergian ayahnya pada tahun 2017. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ibunya menjalankan usaha kue rumahan berskala kecil. Di tengah keterbatasan finansial, Nadya berupaya menjaga keberlangsungan pendidikannya dengan aktif mencari berbagai peluang tambahan.
Ia terlibat dalam penelitian sebagai asisten proyek dosen, menjadi asisten pengajar, serta memperoleh dukungan beasiswa tambahan dari alumni Departemen Ilmu Ekonomi Universitas Padjadjaran dan Yayasan Baitul Maal BRI melalui program Smart Scholarship.
Sejak semester empat, Nadya mulai mengeksplorasi minat penelitiannya pada bidang ekonomi pembangunan, ekonomi lingkungan, serta isu gender. Ketertarikan tersebut mendorongnya untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan akademik, termasuk mengikuti kompetisi dan konferensi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional.
Beberapa di antaranya adalah Jaga Data Challenge yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam ajang tersebut, ia mempresentasikan penelitian berjudul “Pengaruh Faktor Sosio-Ekonomi terhadap Fenomena Korupsi Antar Daerah di Indonesia” dan berhasil meraih peringkat ketiga pada kategori umum.
Selain itu, Nadya juga berpartisipasi dalam 8th Annual Islamic Finance Conference yang diselenggarakan oleh Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan bekerja sama dengan Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Universitas Indonesia.
Penelitian yang dipresentasikannya membahas peran perempuan dalam jajaran top management perbankan syariah terhadap tanggung jawab lingkungan dengan studi kasus di Indonesia, dan mengantarkannya meraih posisi kedua pada kategori junior researcher.
Selain kegiatan akademik, Nadya juga terlibat dalam sejumlah proyek penelitian dan konsultansi yang mendukung pengembangan pengalaman profesionalnya. Ia memiliki pengalaman bekerja di organisasi non-pemerintah (NGO) di Indonesia yang berfokus pada isu pembangunan dan lingkungan, serta berkontribusi dalam proyek-proyek yang dilaksanakan melalui kerja sama dengan lembaga internasional, seperti KfW Development Bank (bank pembangunan milik pemerintah Jerman).
Aspirasi karir Nadya ke depan adalah menjadi akademisi dan peneliti di bidang pembangunan dan lingkungan, khususnya pada isu sustainable financing dan sektor mineral.
Secara praktis, ia ingin terus berkontribusi dalam mengkaji berbagai permasalahan yang dihadapi Indonesia serta membantu menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti yang dapat mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing. (*)





















