Kesenian Sumenep Terpecah, Lesbumi PCNU Serukan Gerakan Bersatu

Lesbumi
Kegiatan Malem Salekoran Lesbumi PCNU Sumenep. (Foto: Kanal News)

SUMENEP, KanalNews.id — Lesbumi PCNU Sumenep menyoroti masih terfragmentasinya ekosistem kesenian di Kabupaten Sumenep. Beragam komunitas seni dinilai berkembang, namun berjalan sendiri-sendiri sehingga belum menghasilkan dampak yang maksimal bagi kemajuan budaya daerah.

Persoalan tersebut mengemuka dalam forum Malem Salekoran bertema “Titik Koma Kesenian Sumenep” yang digelar Lesbumi PCNU Sumenep di lantai II Kantor PCNU Sumenep, Minggu (7/6/2026) malam.

Ketua PCNU Sumenep KH Md Widadi Rahim menilai geliat kesenian di Kota Keris sebenarnya terus tumbuh. Namun, perkembangan itu masih berlangsung secara organik melalui komunitas-komunitas yang belum terhubung dalam satu gerakan bersama.

“Kita melihat kesenian di Sumenep ini kadang masih berjalan di ruang masing-masing. Seni rupa punya jalannya sendiri, sastra sendiri, komunitas lain juga begitu. Padahal kalau dirangkul bersama, dampaknya akan lebih besar,” paparnya.

Baca Juga :  Raih Suara Terbanyak, KH Md Widadi Rahim Resmi Pimpin PCNU Sumenep Periode 2025-2030

Menurut Kiai Widadi, kesenian tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekspresi. Dalam perspektif Nahdlatul Ulama, seni juga dapat menjadi instrumen dakwah yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat.

“Kesenian bagi NU menjadi panggung dakwah untuk menyampaikan nilai-nilai Aswaja dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Tenaga Ahli Bupati Bidang IPTEK dan Kebudayaan, Ibnu Hajar. Ia menegaskan bahwa sejarah perkembangan kesenian Sumenep tidak dapat dipisahkan dari peran pesantren yang selama ini menjadi salah satu pilar kebudayaan masyarakat Madura.

“Kalau bicara kesenian Sumenep, kita tidak bisa memisahkannya dari pesantren. Banyak dinamika kebudayaan di daerah ini lahir dan tumbuh dari tradisi pesantren,” kata Ibnu.

Baca Juga :  Festival Ketupat Sumenep Angkat Tradisi Lokal dan Wisata

Ibnu mengungkapkan, lahirnya Lesbumi di Sumenep juga memiliki keterkaitan dengan aktivitas Jaringan Seniman Sumenep (JSS), yang dahulu menjadi ruang temu para pegiat seni dan budaya lintas bidang.

“Dulu ada ruang yang mempertemukan para seniman, salah satunya JSS. Dari situ kemudian lahir semangat yang ikut menjadi bagian dari tumbuhnya Lesbumi di Sumenep,” jelasnya.

Ia mengingatkan agar Lesbumi tidak terjebak pada agenda seremonial. Organisasi tersebut didorong menjadi motor penggerak lahirnya gagasan, karya, serta gerakan kebudayaan yang lebih substantif.

“Lesbumi ini seperti koki, bumbunya sudah disiapkan para pendahulu. Tinggal bagaimana diolah menjadi sesuatu yang relevan dengan kebutuhan hari ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Lesbumi PCNU Sumenep Moh Junaidi menyatakan berbagai masukan dari narasumber akan menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan dalam menjalankan program organisasi ke depan.

Baca Juga :  Diduga Sarat Rekayasa, Pemilihan Ketua PWI Sumenep Kisruh

“Itu spirit dan perspektif yang harus kami terima sebagai catatan bagaimana Lesbumi akan berjalan ke depan,” ungkapnya.

Menurut Junaidi, kesenian dan kebudayaan tidak boleh dipandang sebatas tontonan. Keduanya harus menjadi ruang produksi gagasan, pengetahuan, dan karya yang mampu memberi pengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat.

Karena itu, Lesbumi akan memosisikan diri sebagai fasilitator yang mendorong terbentuknya ekosistem kesenian yang lebih kuat, kolaboratif, dan tidak hanya bertumpu pada panggung pertunjukan.

“Makanya, Malem Salekoran ini sebagai warisan dari kepengurusan Lesbumi sebelumnya tetap kami adopsi. Tertama sebagai bagian dari proses transfer pengetahun,” pungkasnya. (*)