Terdampak Tol Probowangi, Enam Warga Langkap Basuki Kesulitan Memasang Aliran Listrik

Tol Probowangi
Enam Warga Langkap Basuki Terdampak Tol Probowangi Kesulitan Memasang Aliran Listrik. (Foto: Budhi - Kanal News).

SITUBONDO, KanalNews.id – Proyek pembangunan Tol Probowangi di Desa Langkap Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, telah menimbulkan berbagai masalah bagi warga yang terdampak. Sabtu, 06 Januari 2024.

Salah satu masalah yang dihadapi adalah kesulitan mendapatkan pasokan aliran listrik di rumah baru mereka.

Bacaan Lainnya

Enam rumah warga yang tinggal di RT 03 RW 03 Dusun Wringin Langkap, mengeluhkan tentang kekurangan aliran listrik di rumah baru mereka.

Berdasarkan informasi dihimpun media ini, selama kurang lebih lima bulan, mereka belum dapat menggunakan fasilitas listrik dari PT PLN secara maksimal.

Penyebabnya adalah karena rumah-rumah tersebut berada di lokasi yang jauh dari jaringan listrik PLN.

Untuk mengatasi hal tersebut, warga harus membeli kabel secara pribadi sepanjang 400 meter dari lokasi usaha mebel di desa tersebut.

Namun menurut ke enam Warga tersebut, pasokan listrik yang mereka terima dari pemilik usaha mebel tersebut juga tidak maksimal.

“Kami hanya bisa menggunakan listrik untuk keperluan yang penting saja,” kata Sutip, salah satu warga yang terdampak saat dikonfirmasi media ini. Sabtu (06/01/2024)

“Malam hari, kami harus membatasi penggunaan listrik karena takut aliran listriknya mati.” imbuhnya.

Warga berharap pemerintah dapat segera menyelesaikan masalah ini. Mereka meminta agar PLN segera membangun jaringan listrik baru di lokasi mereka.

Sementara itu, Kepala Desa Langkap Besuki, Anton mengatakan, bahwa dirinya telah berkoordinasi dengan pihak PLN terkait masalah ini. Pihak PLN telah menjelaskan bahwa pembangunan jaringan listrik baru membutuhkan biaya sebesar Rp900 ribu per rumah.

“Warga telah bersedia membayar biaya tersebut. Namun, mereka berharap agar PLN dapat memberikan keringanan biaya, ” kata kades Langkap Basuki.

Seperti disampaikan oleh Nofika atau yang ankarap di panggil opek sebagai pemerhati publik, berharap supaya pihak terkait bisa berfikir dengan bijak dan pro terhadap masyarakat.

“Kita berharap pemerintah daerah tidak tutup mata terkait persoalan masyarakat yang sangat mendasar ini, ” tandasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *