SIDOARJO, KanalNews.id — Dominasi platform digital dalam distribusi dan monetisasi konten dinilai menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan bisnis media siber nasional. Isu itu mengemuka dalam Seminar Nasional Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jawa Timur di Auditorium Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Selasa, 23 Juni 2026.
Seminar bertajuk Digitalisasi Media Pers: Tantangan Patuh Hukum dan Keberlanjutan Bisnis di Era Disrupsi Digital itu mempertemukan pelaku media, regulator, akademisi, dan mahasiswa untuk membahas arah masa depan pers digital di tengah perubahan ekosistem teknologi.
Ketua SMSI Pusat, Firdaus, mengatakan tantangan utama media saat ini bukan sekadar kecepatan distribusi informasi, melainkan bagaimana mempertahankan model bisnis di tengah dominasi platform digital global.
“Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga keberlanjutan bisnis media di tengah dominasi platform digital yang menguasai distribusi dan monetisasi konten,” kata Firdaus. Selasa (23/06/2026).
Lebih lanjut, menurutnya penguatan kelembagaan pers menjadi langkah strategis agar perusahaan media tetap memiliki daya tawar, baik secara ekonomi maupun perlindungan hukum.
“Jadi kita sebangai pengusaha media pers harus tingkatkan dan siapkan kapisatas diri untuk menghadapi tantangan di ere digitalisasi saat ini,” ungkapnya.
Ditempat yang sama, Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Molly Prabawaty, menilai transformasi digital telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat. Kondisi itu, kata dia, menuntut media beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik.
“Transformasi digital telah mengubah pola konsumsi masyarakat. Media harus mampu beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik, yakni akurasi, verifikasi, dan tanggung jawab,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota Dewan Pers, Maha Eka Swasta, menegaskan perkembangan teknologi semestinya tidak diposisikan sebagai ancaman bagi dunia pers. Ia menilai teknologi justru dapat memperkuat kualitas jurnalistik selama etika tetap dijaga.
“Teknologi bukan musuh pers. Yang harus dijaga adalah etika, verifikasi, dan kepercayaan publik,” tegasnya.
Seminar itu juga dihadiri jajaran pengurus SMSI Kabupaten dan Kota se-Jawa Timur, unsur Komdigi, Dewan Pers, akademisi, serta ratusan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dan Fakultas Hukum Umsida.
Selain menjadi forum diskusi, kegiatan tersebut juga menjadi momentum peluncuran Media Agregator SMSI Jawa Timur, sebuah platform yang dirancang untuk memperkuat integrasi dan daya saing media anggota SMSI di tingkat regional. (*)





















