SUMENEP, KanalNews.id — Kotoran hewan yang selama ini dianggap limbah didorong menjadi produk bernilai ekonomi melalui pengembangan biokompos dan pupuk organik cair (POC).
Gagasan tersebut dibahas Universitas Bahaudin Mudhary Madura (UNIBA Madura) bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumenep.
Presentasi dan diskusi itu membahas pemanfaatan kotoran hewan sebagai bahan baku biokompos, aktivator, serta pupuk organik cair untuk mendukung sektor pertanian.
Kegiatan itu dihadiri Sekretaris BRIDA Sumenep, perwakilan Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, staf BRIDA, serta Kepala BRIDA Sumenep Bintoro.
Dari UNIBA Madura hadir Dr. (C) Budyi Suswanto, MT, Dr. Bambang Sugiyono Agus Purwono, MSc, Novi Wahyuningtyas, MT, Siti Umyana, MM, Alief, SKom, Ir. Awiyanto, MM, dan Deni.
Budyi Suswanto menjelaskan, kotoran hewan memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi sektor pertanian.
Pengolahan tersebut diarahkan menghasilkan biokompos dan pupuk organik cair yang mampu meningkatkan kualitas tanah sekaligus mengurangi persoalan lingkungan.
Sementara itu, Bambang SAP menilai pemanfaatan limbah peternakan memiliki potensi strategis karena pertanian dan peternakan menjadi bagian penting ekonomi masyarakat Sumenep.
Menurutnya, inovasi dan teknologi tepat guna dapat mengubah kohe menjadi produk bernilai tambah sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.
Diskusi juga menyoroti aspek legalitas, terutama terkait izin edar pupuk organik apabila produk hasil inovasi akan dikembangkan dan digunakan masyarakat secara luas.
Selain legalitas, pengembangan demo plot (demplot) menjadi tahapan penting untuk menguji efektivitas biokompos dan POC secara langsung pada tanaman.
Sementara Novi menyampaikan, demplot dapat menjadi sarana pembuktian manfaat produk sekaligus media edukasi bagi petani dan masyarakat.
Siti Umyana menegaskan, inovasi tidak boleh berhenti pada penelitian, tetapi harus memiliki manfaat ekonomi yang nyata.
“Dan tentunya semua kegiatan itu harus menghasilkan uang, inovasi yang berhasil haruslah menghasilkan uang,” tambah Umyana.
Gagasan kolaborasi antara UNIBA Madura dan BRIDA Sumenep juga mengemuka agar inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap presentasi.
Awiyanto mendorong kerja sama dilanjutkan melalui riset, pengembangan produk, pengujian lapangan, pendampingan masyarakat, hingga hilirisasi hasil inovasi.
Sementara itu, Alief menambahkan peluang penerapan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mendukung sistem monitoring dalam pengembangan inovasi tersebut.
Kolaborasi perguruan tinggi dan pemerintah daerah dinilai penting untuk mempertemukan hasil riset dengan kebutuhan masyarakat serta arah kebijakan pembangunan daerah.
Pemanfaatan kohe menjadi biokompos dan POC diharapkan memberikan manfaat ganda bagi Sumenep melalui pengurangan limbah dan peningkatan nilai ekonomi.
Inovasi tersebut juga berpotensi mendukung produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis sumber daya lokal.
UNIBA Madura dan BRIDA Sumenep diharapkan melanjutkan komunikasi serta kolaborasi hingga produk benar-benar dapat diterapkan dan memberikan dampak bagi masyarakat.
Dengan demikian, inovasi tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi dari limbah peternakan yang sebelumnya kurang termanfaatkan. (*)





















