SUMENEP, KanalNews.id — Memasuki musim panen tembakau 2026, Pengusaha rokok lokal Sumenep, H. Mukmin alias Bos HM, mulai melakukan pembelian perdananya di Gudang Daramista, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Kamis, 20 Agustus 2026.
Informasi dihimpun media ini, Bos HM menargetkan penyerapan atau pembelian sekitar 1.000 ton tembakau petani Madura pada musim panen 2026.
Target pembelian dalam jumlah besar itu menjadi alternatif pasar bagi petani sekaligus upaya menjaga harga tembakau tetap stabil selama musim panen.
“Rencana kita beli seribu ton,” ujar Haji Mukmin saat ditemui di gudang pembelian tembakau Desa Daramista. Kamis (20/08/2028).
Lebib lanjut, menurut Bos HM, pembelian tembakau dilakukan menggunakan sistem konsorsium dengan melibatkan sejumlah pihak dalam penyediaan modal pembelian.
“Untuk pembelian ini kita modalnya konsorsium ada dari guru-guru, macam-macamlah, jadi dana ini tidak terfokus punya saya pribadi, ” ungkapnya.
Penyerapan tahun ini, sambung Bos HM, diperkirakan meningkat dibandingkan musim sebelumnya. Namun, ia masih menemukan banyak tembakau yang dipanen terlalu muda.
Kondisi tersebut dinilai merugikan petani karena tembakau muda memiliki kualitas dan bobot yang belum maksimal.
Oleh karena itu, Bos HM meminta petani maupun pedagang tidak terburu-buru melakukan pemetikan sebelum tembakau mencapai umur dan kualitas yang cukup.
Ia juga menjelaskan, harga pembelian berbeda berdasarkan kualitas serta lokasi lahan tempat tembakau ditanam.
“Harga paling bawah kami beli Rp50 ribu per kilogram. Harga paling tinggi Rp72 ribu per kilogram, ” terangnya.
Untuk tembakau sawah, harga pembelian berada mulai sekitar Rp50 ribu per kilogram hingga Rp60 ribu per kilogram.
Adapun tembakau gunung dan tegal gunung dihargai sekitar Rp60 ribu hingga Rp72 ribu per kilogram, bergantung kualitas daun.
“Yang sawah dari Rp50 ribu sampai Rp60 ribu. Sementara Tembakau Gunung sama tegal dari Rp60 ribu sampai Rp72 ribu,” jelasnya.
Bos HM juga menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya beli tembakau Sumenep saja namun juga membeli Tembakau dari sejumlah wilayah Madura.
“Cakupan pembelian kita Tembakau Madura, jadi bukan hanya Sumenep saja, tapi se Madura. Ini sekarang ada yang dari Kabupaten Sampang, ” paparnya.
Meski demikian, kualitas tembakau dan asal lahan tetap menjadi pertimbangan dalam menentukan harga pembelian.
Bos HM menegaskan, pihaknya berupaya menjaga harga agar petani memperoleh nilai yang layak setelah mengeluarkan biaya produksi selama musim tanam.
“Kita itu cuma menstabilkan harga saja dari awal sampai akhir,” katanya.
Selain kualitas, faktor cuaca juga menjadi perhatian karena hujan saat panen atau pengolahan dapat menurunkan mutu tembakau.
Bos HM kembali mengingatkan petani dan penebas agar tidak memetik tembakau yang masih muda demi mengejar pembelian lebih cepat.
“Jangan sampai dipetik muda. Karena pabrik besar seperti Sampoerna, Djarum, Gudang Garam sampai hari ini belum beli. Jadi untuk apa buru-buru petik muda yang nanti beratnya akan kurang, sangat merugikan petani,” tegasnya.
Tak hanya itu, Ia berharap perusahaan rokok berskala besar seperti PT Djarum dan Sampoerna segera membuka pembelian agar produksi tembakau Madura dapat terserap lebih maksimal.
“Teman-teman media bisa menanyakan kepada pabrik-pabrik besar, kapan mereka buka. Tembakau kita sudah banyak, sudah banyak yang panen. Harus dibeli untuk penyerapan petani,” ujarnya.
Dengan target 1.000 ton, gudang pembelian di Desa Daramista dipastikan tetap beroperasi selama tembakau petani masih tersedia.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas akses pasar sekaligus membantu petani menghadapi musim panen tembakau 2026.
Pembukaan gudang juga menjadi sinyal bahwa penyerapan tembakau lokal masih dibutuhkan, terutama ketika sebagian pabrikan besar belum membuka pembelian. (*)





















