SUMENEP, KanalNews.id — Hampir sebulan setelah Moh. Firman Ramadhani alias Dani (22) meninggal dunia, keluarga masih menunggu penjelasan RS Baghraf Health Care (BHC) Sumenep mengenai peristiwa tersebut.
Janji investigasi internal yang disampaikan manajemen rumah sakit pada pertengahan Oktober 2026 belum diikuti keterbukaan mengenai hasil pemeriksaan.
Dani merupakan santri Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep. Ia meninggal pada Selasa, 13 Oktober 2026, setelah menjalani perawatan di RS BHC.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam. Terlebih, almarhum diketahui merupakan anak semata wayang dalam keluarganya.
Namun, di tengah suasana berkabung, keluarga masih dihadapkan pada pertanyaan mengenai kejadian selama Dani menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
Harapan sempat muncul ketika manajemen RS BHC menyatakan akan melakukan investigasi internal untuk menelusuri peristiwa tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Manager Humas dan Marketing RS BHC Sumenep, Sandra Rahestri, kepada awak media pada Rabu, 14 Oktober 2026.
Saat itu, Sandra mengatakan manajemen belum dapat memberikan penjelasan lebih jauh karena pemeriksaan internal masih berlangsung.
“Terkait berita yang sedang beredar, kami dari manajemen belum bisa menyampaikan penjelasan terkait hal ini. Agenda kami pagi ini masih dilakukan investigasi secara internal,” kata Sandra, 14 Oktober 2026.
Namun, hingga Jumat, 30 Oktober 2026, keluarga mengaku belum memperoleh informasi terbaru mengenai perkembangan maupun hasil investigasi tersebut.
Persoalan yang ditunggu keluarga bukan sekadar kesimpulan pemeriksaan internal. Mereka juga membutuhkan penjelasan mengenai riwayat pelayanan medis Dani selama dirawat.
Termasuk di dalamnya akses terhadap rekam medis atau medical record pasien sesuai ketentuan dan prosedur yang berlaku.
Kebutuhan tersebut semakin penting karena kematian Dani terjadi setelah ia mendapatkan suntikan saat menjalani perawatan di RS BHC.
Meski demikian, hubungan antara tindakan medis dan penyebab kematian belum dapat disimpulkan tanpa penjelasan serta pemeriksaan medis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di tengah ketidakpastian itu, kesedihan keluarga kembali tergambar melalui unggahan media sosial.
Salah seorang anggota keluarga mengungkapkan kesedihannya melalui akun TikTok yang kini menggunakan nama Kepo? @dihcuih6.
Unggahan pada Minggu, 25 Oktober 2026, memperlihatkan duka keluarga, terutama ketika melihat kondisi orang tua yang ditinggalkan almarhum.
“Ya Allah, sesek sekali tanpa sadar air mata jatuh sendiri ketika melihat orang tuanya adekku. Alfatihah, kamu orang baik,” tulis pemilik akun tersebut, yang diketahui merupakan kakak sepupu almarhum Dani.
Ungkapan itu memperlihatkan bahwa kehilangan Dani masih menyisakan luka mendalam bagi keluarga.
Sebelumnya, keluarga juga telah menyampaikan harapan agar rumah sakit segera memberikan hasil pembahasan internal.
Harapan tersebut disampaikan melalui kolom tanggapan di media sosial kepada media dimadura.id pada 17 Oktober 2026.
“Iya, aamiin, Kak. Kami menunggu hasil rapat internalnya atas kematian adekku,” tulis pihak keluarga.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keluarga sejak awal menaruh harapan terhadap investigasi yang dijanjikan manajemen RS BHC.
Mereka membutuhkan penjelasan konkret mengenai kejadian yang dialami Dani, bukan sekadar pemberitahuan bahwa pemeriksaan internal sedang berlangsung.
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan terbaru dari manajemen RS BHC Sumenep mengenai hasil investigasi maupun penjelasan terkait rekam medis almarhum.
Dalam perkara pelayanan kesehatan, keterbukaan informasi menjadi penting untuk memberikan kepastian kepada keluarga pasien.
Di sisi lain, penjelasan yang transparan juga diperlukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit.
Dani memang telah dimakamkan. Namun, bagi keluarganya, perkara ini belum selesai.
Kehilangan mungkin tidak bisa dikembalikan. Namun, penjelasan mengenai apa yang terjadi selama Dani menjalani perawatan tetap menjadi hak dan harapan keluarga. (Hil)















