SUMENEP, KanalNews.id — Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, akhirnya merespons kasus kematian Moh. Firman Ramadhani alias Dani, seorang santri yang meninggal setelah menerima suntikan dari perawat Rumah Sakit Baghraf Health Care (RS BHC) Sumenep, pada Selasa, 13 Oktober 2026 lalu.
Bupati Fauzi sapaan akrab Bupati Sumenep, menyatakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep akan segra melakukan monitoring ke RS BHC untuk mengetahui peristiwa yang berujung pada kematian santri tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Fauzi seusai apel Hari Santri di Kantor Bupati Sumenep, Kamis, 22 Oktober 2026.
“Jadi dari kemarin masih belum ada pengaduan kepada pemerintah daerah terkait santri yang meninggal,” kata Bupati Fauzi.
Ketika ditanya mengenai desakan pihak keluarga korban agar Dinkes Sumenep bergerak cepat, Bupati Fauzi memastikan pihaknya akan menindaklanjuti persoalan tersebut.
“Hari ini kami (Dinkes, red) akan bergerak, akan memastikan untuk monitoring ke BHC, apa yang sebenarnya terjadi, itu yang pertama,” ujarnya.
Selain meminta klarifikasi kepada pihak rumah sakit, sambung Bupati Fauzi, pemerintah daerah juga akan mencari informasi mengenai komunikasi antara keluarga korban dan manajemen RS BHC.
“Kedua, kita tanya juga dari keluarga bagaimana, apakah sudah ada perdamaian dan sebagainya, kita kan juga harus tahu juga,” terang Bupati Fauzi.
Lebih lanjut, Bupati dua periode itu juga mengaku hingga saat ini belum menerima surat pengaduan dari keluarga korban yang menyatakan keberatan atas peristiwa tersebut.
Sebab, menurut Bupati Fauzi, keluarga yang menyampaikan keberatan biasanya mengirimkan surat kepada pemerintah daerah dalam kasus-kasus sebelumnya.
“Ya, biasanya, berarti ini kan jangan-jangan sudah ada perdamaian antara pihak rumah sakit dengan keluarga korban. Mungkin pasti ada sesuatu yang sudah menerima,” ujarnya.
Ketika awak media menyampaikan informasi terbaru bahwa keluarga korban masih belum menerima penjelasan medis mengenai penyebab kematian Dani.
Bahkan awak media juga mengungkapkan upaya konfirmasi ke RS BHC belum mendapatkan respons yang baik dari pihak rumah sakit.
Menanggapi hal tersebut, Politisi PDIP itu meminta agar proses klarifikasi ditunggu. Ia berharap penjelasan mengenai penyebab kematian dapat diberikan kepada keluarga korban.
“Ya nanti tunggu saja, berarti kan tetap akan diberikan itu. Selama sudah ada perdamaian pasti diberikan apa yang penyebab misalnya matinya seperti apa gitu, karena apa gitu,” tuturnya.
Di luar proses monitoring dan klarifikasi, Fauzi menyatakan pemerintah daerah berencana memberikan santunan kepada santri yang meninggal tersebut.
“Tapi kalau dari sisi pemerintah kita akan berikan santunan bagi santri kemarin yang meninggal itu,” ungkapnya.
Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti kematian Dani dan penjelasan medis terkait tindakan penyuntikan tersebut masih memerlukan klarifikasi lebih lanjut.
Sementara RS BHC baik Direktur maupun Humasnya hingga saat ini masih menutup diri dan seakan menghindar dari kejaran wartawan dan publik untuk dilakukan konfirmasi. (Hil)














