MANGGARAI TIMUR, KanalNews.id — Semangat belajar tak pudar meski gedung sekolah tak lagi aman. Pascagempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Flores, warga dan pendidik di SDI Tiwu Lenang, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, bergotong royong membangun ruang kelas darurat dari bambu, kayu, dan terpal sederhana demi menjaga proses belajar anak-anak.
Pada Senin (12/10/2026), para guru bersama orang tua murid bekerja secara swadaya mendirikan tenda darurat yang kini menjadi tempat berlangsungnya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Rangka atapnya dari terpal bekas sumbangan warga, tiang penyangganya bambu dan kayu seadanya, namun di sinilah harapan tetap dinyalakan.
Gedung Tak Layak, Belajar Tetap Berjalan
Gedung sekolah SDI Tiwu Lenang mengalami kerusakan berat dan dinyatakan tidak aman digunakan pascagempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu.
Demi keselamatan murid dan guru, serta mengantisipasi gempa susulan yang masih kerap terjadi, KBM pun dipindahkan ke luar ruangan.
“Kami membangun ruang kelas darurat ini agar anak-anak tetap bisa belajar sekaligus merasa aman. Ini juga mengikuti arahan pemerintah, mengingat bangunan kami sudah tidak bisa dipakai,” kata Oktavianus Besi salah satu guru SDI Tiwu Lenang. Senin (12/10/2026).
Agar semua siswa tetap mendapat pelayanan pendidikan, lanjut Oktavianus, sekolah menerapkan sistem bergiliran atau shift berbagi tempat secara bergantian setiap harinya.
“Kami berharap bencana ini segera berlalu, agar anak-anak bisa kembali belajar dengan nyaman di tempat dangedung yang layak,” tambahnya.
Gotong Royong Bukti Kepedulian
Sementara itu, Hendrikus Rabu, mewakili para orang tua murid, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada kepala sekolah dan seluruh guru yang tetap teguh menjaga proses pendidikan anak-anak meski dalam situasi sulit.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak/Ibu guru yang tetap hadir dan melayani anak-anak kami. Belajar di luar gedung memang langkah yang tepat demi keselamatan semua, apalagi gempa susulan masih terus terjadi,” ujarnya.
Ia menegaskan, seluruh warga mendukung penuh upaya ini, bahkan rela mengumpulkan tenaga dan bahan sendiri.
“Kami bangun bersama, dari bambu, kayu, dan terpal yang kami sumbangkan sendiri. Sederhana saja, tapi ini bukti kami tak menyerah,” kata Hendrikus.
Terpal Kurang, Puluhan Sekolah di Elar Butuh Perhatian Pemerintah
Namun, upaya swadaya ini memiliki keterbatasan. Terpal yang dipasang belum cukup menutupi seluruh bangunan darurat, dinding belum terpasang rapi, dan cuaca tak menentu. Hendrikus pun memohon perhatian pemerintah.
“Kami memohon bantuan terpal dari pemerintah. Anak-anak kami butuh tempat yang lebih terlindungi agar bisa belajar dengan tenang,” pintanya.
Kebutuhan ini ternyata bukan hanya milik SDI Tiwu Lenang. Hampir seluruh satuan pendidikan di Kecamatan Elar, dari jenjang TK/Paud hingga SMA, kini mendesak membutuhkan terpal untuk tenda darurat.
Dari pantauan media ini sekolah-sekolah yang paling membutuhkan bantuan antara lain:
1. SDI Compang Ngeles
2. SDI Tiwu Lenang
3. SD Reweng
4. SD Watu Ling
5. SMP Satap Watu Ling
6. SDI Mbaing Tasik
7. SD Mboeng
8. SMP di Desa Wae Lokom
9. SMA Negeri 1 Elar
10. SMP Negeri 1 Elar
Dan juga sekolah-sekolah lainnya di wilayah tersebut.
Harapan di Tengah Sederhana
Bagi warga Kecamatan Elar, terpal bukan sekadar penutup tenda — ia adalah payung bagi masa depan anak-anak Flores. Di tengah keterbatasan, semangat gotong royong dan keteguhan para pendidik menjadi bukti bahwa pendidikan tidak berhenti oleh bencana.
Namun dukungan pemerintah sangat dibutuhkan agar anak-anak ini tetap bisa belajar dengan aman, nyaman, dan tenang.
“Kami berjuang sekuat tenaga, tapi kami tak bisa sendirian. Anak-anak ini berhak mendapatkan tempat belajar yang layak, meski sementara,” ucap Hendrikus dengan harapan yang tulus. (Alfaro)














