Beranda / Regional / 11 Siswa Keluar dari Sekolah Rakyat Pasuruan, Ini Penjelasan Kepala Sekolah

11 Siswa Keluar dari Sekolah Rakyat Pasuruan, Ini Penjelasan Kepala Sekolah

Sekolah Rakyat

PASURUAN, KanalNews.id – Sebanyak 11 siswa tercatat keluar atau pindah dari Sekolah Rakyat Jatim 3 Pasuruan. Sebagian di antaranya mengalami kesulitan beradaptasi dengan kehidupan asrama.

Kepala Sekolah Rakyat Jatim 3 Pasuruan, Yuli Prihatini, S.Pd., menjelaskan dinamika tersebut saat memberikan keterangan pada Rabu (4/11/2026).

Menurut Yuli, persoalan adaptasi menjadi salah satu tantangan pada awal penerapan sistem pendidikan berasrama.

” Mereka umumnya belum terbiasa dengan jadwal ketat, seperti bangun pukul 04.00 pagi, apel, salat berjamaah, hingga menjaga kebersihan diri. Namun, seiring berjalannya waktu, para siswa mulai terbiasa dengan rutinitas tersebut,” jelasnya.

Selain kedisiplinan, kerinduan terhadap keluarga atau homesick juga menjadi salah satu pemicu siswa ingin meninggalkan asrama.

Yuli mengatakan, kondisi tersebut biasanya muncul setelah siswa mendapatkan kesempatan bertemu orang tua melalui jadwal kunjungan sebulan sekali.

Persoalan lain berkaitan dengan kebiasaan jajan di luar lingkungan asrama. Sekolah menerapkan aturan pembatasan jajanan bebas bagi seluruh siswa.

Penitipan makanan hanya diperbolehkan setiap Sabtu melalui tabungan yang dikelola sekolah. Kebijakan itu juga digunakan untuk kegiatan khusus, seperti perayaan ulang tahun siswa.

Sekolah, kata Yuli, juga pernah menghadapi persoalan teknis berupa tumpukan kayu di dekat pagar asrama. Kondisi tersebut sempat memudahkan siswa keluar dari lingkungan asrama.

Baca Juga :  Berkat Ide Cemerlang Bupati Fauzi, Kadiskop Ramli Akui Perekonomian Masyarakat Makin Tumbuh

Meski demikian, pengurus asrama berhasil membujuk siswa yang sempat meninggalkan asrama untuk kembali setelah diberikan pemahaman.

11 Siswa Keluar atau Pindah

Yuli merinci, jumlah keseluruhan peserta didik di Sekolah Rakyat Jatim 3 Pasuruan mencapai 309 anak. Sebanyak 48 siswa merupakan peserta didik tingkat sekolah dasar.

Pada tahun ajaran tersebut, sekolah menerima 270 siswa baru. Namun, dalam perjalanannya, terdapat sejumlah siswa yang memilih keluar atau pindah.

“Sebanyak delapan anak keluar sejak masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) karena diterima di sekolah lain atau orang tua belum sepenuhnya percaya,” ungkapnya.

Selain itu, terdapat tiga siswa lainnya yang sempat mengundurkan diri. Dengan demikian, jumlah siswa yang keluar atau pindah tercatat sebanyak 11 anak.

Yuli menyebut mayoritas siswa yang mengundurkan diri berasal dari jenjang sekolah menengah pertama (SMP).

Pihak sekolah tidak melarang siswa pindah setelah masa MPLS, sepanjang mengikuti prosedur yang berlaku.

“Ketiga anak yang sempat mundur tersebut kini telah mendapatkan sekolah baru, baik atas usaha sendiri maupun dibantu pihak sekolah dan dinas, serta telah berkoordinasi dengan baik,” paparnya.

Baca Juga :  Warga Dukung PUPR Matim Gelar Konsultasi Publik AMDAL Pembanguan Sekolah Rakyat di Kota Komba

Di sisi lain, sekolah masih merencanakan penambahan peserta didik. Sebanyak 17 calon siswa dikoordinasikan melalui Dinas Sosial.

Ada pula dua siswa dari Dinas Pendidikan Kota Pasuruan melalui program khusus Anak Tidak Sekolah (ATS). Mereka terdiri atas satu siswa SMP dan satu siswa SMA.

Yuli memastikan seluruh perkembangan data peserta didik telah dikoordinasikan dengan Dinas Sosial, UPT Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, serta kementerian.

Pendataan tersebut dilakukan melalui sinkronisasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan diperkuat Surat Keputusan Wali Kota.

Ia menegaskan, Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran mandiri untuk masyarakat umum. Penerimaan siswa mengacu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) atau Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Fasilitas hingga Laptop untuk Siswa

Selain persoalan adaptasi, Yuli memaparkan berbagai fasilitas yang diberikan pemerintah pusat untuk menunjang kebutuhan pendidikan dan kehidupan siswa.

Fasilitas tersebut meliputi sepatu, alat tulis, perlengkapan sekolah, hingga laptop. Seluruh perlengkapan itu menjadi hak peserta didik.

Baca Juga :  Pendidkan Gratis di Ende, Sekolah Rakyat menjadi Harapan

Bahkan, laptop yang telah didata atas nama masing-masing siswa akan menjadi milik pribadi setelah mereka menyelesaikan pendidikan SMA.

“Kalau sudah lulus SMA, laptop yang didata atas nama masing-masing anak menjadi hak milik pribadi dan tidak ditarik kembali oleh pihak sekolah,” jelasnya.

Untuk menunjang kesehatan, sekolah juga menyediakan tenaga medis berupa perawat yang bertugas di ruang pelayanan kesehatan berdampingan dengan Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Perawat bertugas melakukan pemeriksaan awal dan menangani keluhan kesehatan ringan. Obat-obatan disediakan melalui puskesmas mitra.

Sementara itu, siswa yang mengalami gangguan kesehatan lebih serius akan dirujuk ke  RSUD dr. R. Soedarsono kota Pasuruan.

Sekolah juga menyediakan kendaraan operasional Daihatsu Luxio untuk kebutuhan medis, antar-jemput siswa berkebutuhan khusus, serta kegiatan perlombaan.

Adapun mekanisme libur sekolah menggunakan sistem yang disebut “pesiar”, menyerupai tradisi liburan di lingkungan pondok pesantren.

Saat libur semester maupun libur tahunan sesuai kalender pendidikan, siswa dipulangkan ke rumah masing-masing dengan mengenakan pakaian khusus pesiar.

Sekolah juga menyiapkan mekanisme pemberian uang saku bagi siswa selama menjalani masa liburan tersebut. (Saichu)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *